Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
PIKOM-HI PIKOM-HI

Perkumpulan Ilmuan Komunikasi Hindu Indonesia

PIKOM-HI PIKOM-HI

Perkumpulan Ilmuan Komunikasi Hindu Indonesia

  • Home
  • Berita
  • About
  • Home
  • Berita
  • About
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Joint Member PIKOM-HI!
Komunikasi

Tri Kaya Parisudha: “Algoritma” Leluhur untuk Waras Bermedia Sosial

Avatar
By I Ketut Putu Suardana
April 11, 2026 2 Min Read
0

Oleh: I Ketut Putu Suardana, M.I.Kom. (Dosen IAHN Gde Pudja Mataram)

Di era di mana jempol sering kali bergerak lebih cepat daripada pikiran, media sosial telah berubah menjadi medan tempur ego. Algoritma digital dirancang untuk memancing emosi, mempertemukan kita dengan konten yang memicu amarah, dan menjebak kita dalam ruang gema (echo chamber) yang sempit. Akibatnya, kita sering kehilangan kendali atas diri sendiri.

Namun, jauh sebelum media sosial ditemukan, leluhur kita telah mewariskan sebuah “protokol komunikasi” yang luar biasa canggih, yakni Tri Kaya Parisudha. Jika diimplementasikan, ajaran ini bukan sekadar filosofi kuno, melainkan “algoritma moral” yang mampu menjaga kita tetap waras di tengah hiruk-pikuk dunia maya.

1. Manacika: Filter Mental Sebelum Mengetik

Algoritma media sosial bekerja berdasarkan apa yang kita lihat dan pikirkan. Begitu pula dengan etika. Manacika (berpikir yang benar) adalah gerbang pertama. Dalam konteks digital, ini adalah tahap fact-checking internal dan kontrol emosi.

Seringkali, kita merasa gatal untuk menghujat atau membagikan berita bombastis karena pikiran kita sudah terpolusi oleh prasangka. Dengan Manacika, kita diajak untuk bertanya pada diri sendiri: “Kenapa saya ingin membagikan ini? Apakah niat saya untuk mengedukasi, atau sekadar ingin terlihat paling tahu?” Berpikir jernih adalah firewall alami yang mencegah virus kebencian masuk ke dalam sistem komunikasi kita.

2. Wacika: Menjaga “Lidah” di Balik Layar

Jika Manacika adalah proses di balik layar, maka Wacika (berkata yang benar) adalah output yang muncul di layar kaca. Di media sosial, “ucapan” kita kini berwujud teks, caption, dan komentar.

Prinsip Wacika mengingatkan bahwa meski kita berkomunikasi dengan layar, ada manusia nyata di ujung sana yang bisa terluka. Menggunakan Wacika berarti memastikan bahwa kata-kata yang kita ketik tidak mengandung kebohongan (hoaks), tidak memfitnah, dan tidak kasar. Ingat, jejak digital adalah prasasti modern; apa yang kita tulis hari ini adalah cerminan kualitas diri kita di mata masa depan.

3. Kayika: Etika dalam Setiap Klik dan Share

Kayika (berbuat yang benar) adalah eksekusi final. Dalam dunia digital, perbuatan tidak lagi hanya sebatas fisik, tetapi juga perilaku kita di ekosistem internet. Menekan tombol share adalah sebuah perbuatan. Melaporkan konten negatif (report) adalah sebuah perbuatan. Memberikan dukungan moral lewat like juga sebuah perbuatan.

Seorang yang menerapkan Kayika akan sangat berhati-hati sebelum menyebarkan informasi. Mereka sadar bahwa satu klik “Bagikan” bisa berdampak luas, baik itu menyelamatkan orang atau justru menghancurkan reputasi seseorang. Kayika adalah bentuk tanggung jawab sosial kita sebagai warga digital.

Menjadi Netizen yang Terintegrasi

Masalah utama di media sosial hari ini adalah disintegrasi. Banyak orang yang pikirannya baik, tapi tulisannya pedas. Ada yang tulisannya manis, tapi niatnya menjatuhkan. Tri Kaya Parisudha menuntut sinkronisasi antara pikiran, ucapan, dan perbuatan yang harus berada dalam satu garis lurus yang suci.

Kita tidak perlu menunggu pembaruan kebijakan dari platform besar untuk mendapatkan ruang digital yang sehat. Kita hanya perlu memperbarui “perangkat lunak” etika kita sendiri. Dengan menjadikan Tri Kaya Parisudha sebagai algoritma harian, kita tidak hanya akan menjadi netizen yang cerdas secara teknologi, tetapi juga waras secara nurani.

Karena pada akhirnya, fitur paling canggih dalam sebuah ponsel bukanlah kameranya, melainkan kebijaksanaan penggunanya.

Avatar
Author

I Ketut Putu Suardana

Follow Me
Other Articles
Previous

10 Dosen IAHN TP Palangkaraya Resmi Bergabung PIKOM-HI, Ketua Umum Apresiasi Penguatan Jejaring Akademik

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

About PIKOM-HI

Perkumpulan Ilmuan Komunikasi Hindu Indonesia (PIKOM-HI) adalah wadah akademik bagi dosen, peneliti, praktisi media, dan pemerhati komunikasi Hindu untuk membangun jejaring ilmiah, mengembangkan riset, serta memperkuat publikasi dan diskursus komunikasi Hindu di Indonesia. Dengan bergabung di PIKOM-HI, Anda dapat memperluas kolaborasi akademik, berpartisipasi dalam seminar dan konferensi ilmiah, serta berkontribusi dalam pengembangan ilmu komunikasi Hindu di era digital.

Recent Posts

  • Tri Kaya Parisudha: “Algoritma” Leluhur untuk Waras Bermedia Sosial
  • 10 Dosen IAHN TP Palangkaraya Resmi Bergabung PIKOM-HI, Ketua Umum Apresiasi Penguatan Jejaring Akademik
  • PIKOM-HI Sukses Antarkan Prodi S2 Ilmu Komunikasi Hindu Raih Akreditasi Unggul

About PIKOM-HI

Perkumpulan Ilmuan Komunikasi Hindu Indonesia (PIKOM-HI) adalah wadah akademik bagi dosen, peneliti, praktisi media, dan pemerhati komunikasi Hindu untuk membangun jejaring ilmiah, mengembangkan riset, serta memperkuat publikasi dan diskursus komunikasi Hindu di Indonesia.

Sekretariat:

Jalan Pancaka No. 7B Mataram Nusa Tenggara Barat, Indonesia Website: www.pikom-hi.org WhatsApp : 081-999-727-444

Joint Member PIKOM-HI Now!

Recent Posts

  • Tri Kaya Parisudha: “Algoritma” Leluhur untuk Waras Bermedia Sosial
  • 10 Dosen IAHN TP Palangkaraya Resmi Bergabung PIKOM-HI, Ketua Umum Apresiasi Penguatan Jejaring Akademik
  • PIKOM-HI Sukses Antarkan Prodi S2 Ilmu Komunikasi Hindu Raih Akreditasi Unggul

Archives

  • April 2026 (1)
  • March 2026 (2)
Copyright 2026 — PIKOM-HI