Tri Kaya Parisudha: “Algoritma” Leluhur untuk Waras Bermedia Sosial
Oleh: I Ketut Putu Suardana, M.I.Kom. (Dosen IAHN Gde Pudja Mataram)
Di era di mana jempol sering kali bergerak lebih cepat daripada pikiran, media sosial telah berubah menjadi medan tempur ego. Algoritma digital dirancang untuk memancing emosi, mempertemukan kita dengan konten yang memicu amarah, dan menjebak kita dalam ruang gema (echo chamber) yang sempit. Akibatnya, kita sering kehilangan kendali atas diri sendiri.
Namun, jauh sebelum media sosial ditemukan, leluhur kita telah mewariskan sebuah “protokol komunikasi” yang luar biasa canggih, yakni Tri Kaya Parisudha. Jika diimplementasikan, ajaran ini bukan sekadar filosofi kuno, melainkan “algoritma moral” yang mampu menjaga kita tetap waras di tengah hiruk-pikuk dunia maya.
1. Manacika: Filter Mental Sebelum Mengetik
Algoritma media sosial bekerja berdasarkan apa yang kita lihat dan pikirkan. Begitu pula dengan etika. Manacika (berpikir yang benar) adalah gerbang pertama. Dalam konteks digital, ini adalah tahap fact-checking internal dan kontrol emosi.
Seringkali, kita merasa gatal untuk menghujat atau membagikan berita bombastis karena pikiran kita sudah terpolusi oleh prasangka. Dengan Manacika, kita diajak untuk bertanya pada diri sendiri: “Kenapa saya ingin membagikan ini? Apakah niat saya untuk mengedukasi, atau sekadar ingin terlihat paling tahu?” Berpikir jernih adalah firewall alami yang mencegah virus kebencian masuk ke dalam sistem komunikasi kita.
2. Wacika: Menjaga “Lidah” di Balik Layar
Jika Manacika adalah proses di balik layar, maka Wacika (berkata yang benar) adalah output yang muncul di layar kaca. Di media sosial, “ucapan” kita kini berwujud teks, caption, dan komentar.
Prinsip Wacika mengingatkan bahwa meski kita berkomunikasi dengan layar, ada manusia nyata di ujung sana yang bisa terluka. Menggunakan Wacika berarti memastikan bahwa kata-kata yang kita ketik tidak mengandung kebohongan (hoaks), tidak memfitnah, dan tidak kasar. Ingat, jejak digital adalah prasasti modern; apa yang kita tulis hari ini adalah cerminan kualitas diri kita di mata masa depan.
3. Kayika: Etika dalam Setiap Klik dan Share
Kayika (berbuat yang benar) adalah eksekusi final. Dalam dunia digital, perbuatan tidak lagi hanya sebatas fisik, tetapi juga perilaku kita di ekosistem internet. Menekan tombol share adalah sebuah perbuatan. Melaporkan konten negatif (report) adalah sebuah perbuatan. Memberikan dukungan moral lewat like juga sebuah perbuatan.
Seorang yang menerapkan Kayika akan sangat berhati-hati sebelum menyebarkan informasi. Mereka sadar bahwa satu klik “Bagikan” bisa berdampak luas, baik itu menyelamatkan orang atau justru menghancurkan reputasi seseorang. Kayika adalah bentuk tanggung jawab sosial kita sebagai warga digital.
Menjadi Netizen yang Terintegrasi
Masalah utama di media sosial hari ini adalah disintegrasi. Banyak orang yang pikirannya baik, tapi tulisannya pedas. Ada yang tulisannya manis, tapi niatnya menjatuhkan. Tri Kaya Parisudha menuntut sinkronisasi antara pikiran, ucapan, dan perbuatan yang harus berada dalam satu garis lurus yang suci.
Kita tidak perlu menunggu pembaruan kebijakan dari platform besar untuk mendapatkan ruang digital yang sehat. Kita hanya perlu memperbarui “perangkat lunak” etika kita sendiri. Dengan menjadikan Tri Kaya Parisudha sebagai algoritma harian, kita tidak hanya akan menjadi netizen yang cerdas secara teknologi, tetapi juga waras secara nurani.
Karena pada akhirnya, fitur paling canggih dalam sebuah ponsel bukanlah kameranya, melainkan kebijaksanaan penggunanya.